Assalamualaikum, Hallo Selamat Datang di Blog Arinda
Puspita
Manfaat Pembelajaran Program Best Learning (PBL)
Sebagian pelajar terutama
mahasiswa beranggapan bahwa sistem pembelajaran yang teoritis sudah cukup
memberikan peningkatan minat dan pemahaman terhadap pengetahuan yang
dipelajari.Namun, tidak sedikit pula mahasiswa yang mengeluhkan sistem
pembelajaran yang kurang terarah. Mereka beranggapan bahwa semua yang diajarkan
selama perkuliahan belum cukup menjadi bekal untuk diinterpretasikan dalam
dunia kerja mereka. Karakter pengajar yang selalu berdiri menjelaskan dan
berbicara sedangkan mahasiswa mendengarkan tanpa memberikan opini mereka dan
rasa ketidakpuasan terhadap ilmu yang mereka dapat. Ditambah banyaknya
mahasiswa yang merasa jenuh, tidak fokus, bahkan mengantuk ketika jam kuliah
pakar dosen. Hal ini sudah cukup menjelaskan bahawa sistem pembelajaran secara
teoritis tidak efektif dalam mewujudkan lulusan mahasiswa yang berkualitas. Di
satu sisi kurikulum berbasis kompetensi menuntut peserta didik memiliki
kompetensi yang memadai dan mempersempit jurang pemisah antara teori yang
dipelajari peserta didik dengan kondisi lingkungan yang dihadapinya. Sementara
itu di sisi lain kemampuan mahasiswa masih terbatas pada hafalan dan mengalami
kesulitan jika dihadapkan pada tataran aplikasi dan implementasi. Mereka
merasa perlu untuk menerapkan pembelajaran yang didapat secara teoritis menjadi
bentuk aplikatif. Dimana mereka dihadapkan dengan masalah-masalah nyata
seolah-olah mereka harus mengatasi masalah tersebut. Jika pengajar terus
menggunakan sistem ini hingga mereka lulus nanti, besar kemungkinan mereka akan
buta terhadap hal aplikatif dimana hal itulah yang menjadi faktor utama
dalam mencapai target pekerjaan yang diinginkan kelak. Oleh karena itu, perlu
tindakan tegas pemerintah dalam menangani hal tersebut.
Guna mengatasi permasalahan tersebut, Wilson menyatakan bahwa paradigma pendidikan yang dominan untuk meningkatkan mutu pendidikan mencakup: kurikulum, pedagogi dan penilaian hasil belajar. Kurikulum berisi bahan ajar yang harus disampaikan kepada siswa. Selanjutnya pedagogi merupakan proses pembelajaran guru menggunakan berbagai model pembelajaran. Penilaian merupakan sistem evaluasi hasil belajar sesuai dengan standar kemampuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam upaya peningkatan kualitas proses pembelajaran, maka peneliti mencoba untuk mengimplementasikan model pembelajaran dengan pendekatan Problem-Based Learning. Program pembelajaran yang diawali dari pemberian masalah atau kasus dalam suatu lingkup pekerjaan. Dengan pendekatan tersebut mahasiswa tidak hanya dibekali dengan konsep yang abstrak tetapi juga mahasiswa banyak dibekali kemampuan untuk mengaplikasikan konsep atau kasus nyata yang diterimanya sesuai lingkup kerja mereka. Dengan demikian diharapkan mahasiswa memiliki kemampuan yang memadai dalam memahami materi statistika secara utuh. Dalam metode PBL, peserta didik diberikan suatu permasalahan. Kemudian secara berkelompok (sekitar lima hingga delapan orang), mereka akan berusaha untuk mencari solusi atas permasalahan tersebut. Untuk mendapatkan solusi, mereka diharapkan secara aktif mencari informasi yang dibutuhkan dari berbagai sumber. Informasi dapat diperoleh dari bahan bacaan (literatur), narasumber, dan lain sebagainya.
Menurut Gick and Holyoak, beberapa
keuntungan yang diperoleh karena adanya penggunaan metode PBL dalam
pembelajaran meliputi:
· Motivation PBL makes
students more engaged in learning because they are hard wired to respond to
dissonance and because they feel they are empowered to have an impact on the
outcome of the investigation.
·
Relevance And Context PBL offers students an obvious
answer to the questions, "Why do we need to learn this information?"
and "What does what I am doing in school have to do with anything in the
real world?"
·
Higher-Order Thinking The ill-structured problem
scenario calls forth critical and creative thinking by suspending the guessing
game of, "What's the right answer the teacher wants me to find?"
·
Learning How To Learn PBL promotes metacognition and
self-regulated learning by asking students to generate their own strategies for
problem definition, information gathering, dataanalysis, and
hypothesis-building and testing, comparing these strategies against and sharing
them with other students' and mentors' strategies.
·
Authenticity PBL engages students in learning
information in ways that are similar to the ways in which it will be recalled
and employed in future situations and assesses learning in ways which
demonstrate understanding and not mere acquisition (http://www2.imsa.edu).
Pendapat di atas menunjukkan bahwa dengan penerapan
PBL dalam proses pembelajaran akan mampu meningkatkan motivasi belajar
mahasiswa, materi bersifat relevan dan kontekstual. Di samping itu PBL juga
mengembangkan pemikiran pada tingkat yang lebih tinggi, artinya tidak hanya
terbatas pada meningkatkan pengetahuan saja melainkan juga mengembangkan
kemampuan dan sikap peserta didik dalam mengatasi permasalahan. PBL juga
memberikan bekal kepada peserta didik tentang bagaimana cara belajar memahami
permasalahan dan memecahkannya sehingga peserta didik benar-benar mampu
memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang otentik.
DAFTAR
PUSTAKA
Muhson, Ali. "Peningkatan Minat Belajar dan Pemahaman
Mahasiswa Melalui Penerapan Problem-Based Learning." Jurnal Kependidikan:
Penelitian Inovasi Pembelajaran 39.2 (2009).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar